Ketua Umum GRIB Hercules Menantang Menteri Maruarar Sirait Untuk Membuktikan Lahan Ini Milik Negara

Ketua Umum GRIB Hercules Menantang Menteri Maruarar Sirait Untuk Membuktikan Lahan Ini Milik Negara

Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya, Rosario de Marshal alias Hercules, secara terbuka menantang Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) untuk membuktikan bahwa lahan seluas 34.690 m² di Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang saat ini dikuasai ormasnya adalah benar-benar aset negara.

Sebagaimana Menteri Maruarar Sirait mengklaim Lahan tersebut adalah aset PT KAI (milik negara) yang dikuasai ormas secara illegal.

Maka dari itu, akan diambil alih untuk membangun Rusun (Rumah Susun) bagi warga bantaran rel dan masyarakat berpenghasilan rendah, menindaklanjuti janji Presiden Prabowo.

Ia juga menegaskan lahan tidak akan diberikan ke pengembang swasta.

Sementara dari sisi Hercules menentang bahwa lahan itu bukan milik PT KAI, melainkan hak milik ahli waris bernama Sulaeman Effendi.

GRIB Jaya memegang kuasa hukum dari ahli waris tersebut untuk memperjuangkan hak atas lahan.

Hercules juga Menantang Menteri dan Dirut KAI Bobby Rasyidin untuk menunjukkan sertifikat atau bukti legal bahwa lahan itu milik negara.

Ia juga mengatakan bersedia akan menyerahkan lahan hari ini juga apabila negara bisa membuktikan kepemilikannya.

Debat tersebut memuncak dalam rapat pada 6 April 2026 yang melibatkan Menteri Ara, PT KAI, dan Hercules di lokasi tanah kosong tersebut.

Hal itu juga bukan pertama kalinya GRIB Jaya terlibat sengketa lahan negara.

Sebelumnya, BMKG telah melaporkan GRIB Jaya ke pihak berwajib karena menduduki lahan negara seluas 127.780 m² di Pondok Betung, Tangerang Selatan, yang sudah memiliki sertifikat hak pakai atas nama negara.

Hercules juga mengklaim status lahan di Tanah Abang adalah HPL (Hak Pengelolaan) milik ahli waris, bukan aset KAI.

Dengan demikian, situasi itu masih berkembang dengan kedua belah pihak saling menuntut bukti legalitas kepemilikan lahan strategis di pusat Jakarta tersebut.